Minggu, 09 April 2017

PSIKOLOGI PENDIDIKAN : MOTIVASI




Motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku. Artinya perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah dan bertahan lama.
Motivasi murid di kelas berkaitan dengan alasan di balik perilaku murid dan sejauh mana perilaku mereka diberi semangat, punya arah dan dipertahankan dalam jangka lama. Jika murid tidak menyelesaikan tugas karena bosan, maka dia kekurangan motivasi. Jika murid menghadapi tantangan dalam penelitian dan penulisan makalah, tetapi dia terus berjuang, maka dia punya motivasi yang besar.


Perspektif Tentang Motivasi
Motivasi menurut empat perspektif psikologis : behavioral, humanistik, kognitif, dan sosial.



  • Perspektif Behavioral
Perspektif behavioral menekankan imbalan (reward) dan hukuman eksternal sebagai kunci dalam menentukan motivasi murid.


  • Perspektif Humanistik
Perspektif humanistik menekankan pada kapasitas murid untuk mengembangkan kepribadian, kebebasan untuk memilih nasib mereka, dan kualitas positif.
Perspektif ini berkaitan dengan pandangan Abraham Maslow bahwa kebutuhan dasar harus dipuaskan terlebih dahulu sebelum memuaskan kebutuhan yang lebih tinggi.

Gambar hirarki kebutuhan maslow



Menurut Maslow misalnya, murid harus memuaskan kebutuhan makan sebelum mereka dapat berprestasi.


  • Perspektif Kognitif
Perspektif kognitif menekankan bahwa pemikiran murid lah yang akan memandu motivasi mereka.
Perspektif kognitif juga menekankan arti penting dari penentuan tujuan, perencanaan dan monitoring kemajuan menuju satu tujuan (Schunk & Ertmer, 2000 ; Zimmerman & Schunk, 2001).  Jadi perspektif behavioris memandang motivasi murid sebagai konsekuensi dari Insentif eksteranl, sedangkan perspektif kognitif berpendapat bahwa tekanan eksternal seharusnya tidak dilebih-lebihkan. Perspektif kognitif menyarankan agar murid lebih diberi banyak kesempatan dan tanggung jawab untuk mengontrol hasil prestasi mereka sendiri.


  • Perspektif Sosial
Kebutuhan afiliasi dan keterhubungan adalah motif untuk berhubungan dengan orang lain secara aman. Ini membutuhkan hubungan pembentukan, pemeliharaan, dan pemulihaN hubungan personal yang hangat dan akrab. Kebutuhan afiliasi murid terlihat dari motivasi mereka untuk menghabiskan waktu bersama teman, kawan dekat, orang tua, dan keinginan untuk menjalin hubungan postif dengan guru.
Murid yang memiliki hubungan yang penuh perhatian dan suportif biasanya memiliki sikap akademik yang positif dan lebih senang bersekolah (Baker, 1999; Stipek, 2002). Dalam sebuah studi bersekala luas, salah satu faktor terpenting motivasi dan prestasi murid adalah presepsi mereka mengenai apakah hubungan mereka dengan guru bersifat positif atau tidak (McCombs, 2001; McCombs & Quiat, 2001).


MOTIVASI UNTUK MERAIH SUKSES

Perhatian terhadap motivasi sekolah telah dipengaruhi oleh perspektif kognitif.

Motivasi Ekstrinsik dan Intrinsik 
Motivasi ekstrinsik adalah melakukan sesuatu dengan tujuan untuk mendapatkan sesuatu.
Motivasi ekstrinsik dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti imbalan dan hukuman. Misalnya, murid belajar keras untuk mendapatkan nilai yang baik.
motivasi intrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri). Misalnya, belajar dikarenakan dia senang pada mata pelajaran tersebut. Perspektif behavioral menekankan arti penting dari motivasi ekstrinsik dalam prestasi, sedangkan pendekatan kognitif dan humanistik lebih menekankan pada arti penting dari motivasi intrinsik dalam prestasi.

Proses Kognitif Lainnya
Empat proses kognitif ini adalah : (1) atribusi; (2) motivasi untuk menguasai keahlian (mastery); (3) self-efficacy; dan (4) penentuan tujuan, perencanaan dan monitoring diri.
  • Atribusi. 
     Atribusi adalah sebab-sebab yang dianggap menimbulkan hasil. Teori atribusi menyatakan bahwa dalam usaha mereka untuk memahami perilaku atau kinerjanya sendiri, orang-orang termotivasi untuk menemukan sebab-sebab yang mendasarinya. Pencarian sebab-sebab atau penjelasan ini lebih mungkin mucul jika kejadian yang tak terduga atau kejadian penting berakhir dengan kegagalan, seperti ketika murid pandai mendapat nilai buruk (Graham & Weiner, 1996).
Bernard Weiner (1986, 1992) mengidentifikasi tiga dimensi atribut kausal yakni lokus, kemampuan (stabilitas), dan daya kontrol.
-       Lokus. Presepsi murid tentang kesuksesan atau kegagalan sebagai akibat dari faktor internal atau eksterna yang mempengaruhi harga diri murid
-       Stabilitas. Persepsi murid terhadap stabilitas dari suatu sebab yang mempengaruhi ekspektasi kesuksesannya.
-      Daya kontrol. Persepsi murid tentang daya kontrol atas suatu sebab berhubungan dengan sejumlah hasil emosi seperti kemarahan, rasa bersalah, rasa kasihan dan malu (Graham & Weiner, 1998).

  • Motivasi untuk menguasai
Yang berhubungan erat dengan ide tentang motivasi intrinsik dan atribusi adalah konsep penguasaan (mastery motivation) (Jennings & Dietz, 2002). Anak dengan orientasi untuk menguasai akan fokus pada tugas ketimbang pada kemampuan mereka, punya sikap positif (menikmati tantangan), dan menciptakan strategi berorientasi solusi yang meningkatkan kinerja mereka. Berbeda dengan orientasi kinerja, orientasi kinerja adalah pandangan personal yang menitikberatkan pada kinerja/hasil ketimbang prosesnya.  Bagi murid berorientasi kinerja, kemenangan atau keberhasilan adalah penting dan kebahagiaan dianggap sebagai hasil dari kemenangan.

  • Self-Efficacy
Konsep self-efficacy adalah keyakinann bahwa seseorang bisa menguasai situasi dan memproduksi hasil yang positif.



Daftar pustaka : John W. Santrock, psikologi pendidikan, jilid 2, Jakarta, Fajar Interpratama Mandiri, 2004. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar