Minggu, 02 April 2017

Pendidikan Multikultural

PENDIDIKAN MULTIKULTURAL



Pendidikan multikultural adalah pendidikan yang menghargai disversitas dan mewadahi perspektif dari beragam kelompok kultural atas dasar basis reguler. Pendidikan multikultural bertujuan untuk pemerataan kesempatan bagi semua murid, termasuk mempersempit gap antara murid kelompok utama dengan kelompok minoritas dalam prestasi akademik. 




  





Karena keadilan adalah salah satu nilai dasar dalam pendidikan multikultural, maka “reduksi prasangka” dan “pedagogi ekuitas” menjadi komponen utamanya. 

Reduksi prasangka adalah aktivitas yang diimplementasikan guru di dalam kelas untuk menghilangkan pandangan negatif dan sterotip terhadap orang lain.
Pedagogi ekuitas merupakan modifikasi proes pengajaran dengan memasukkan materi dan strategi pembelajaran yang tepat untuk semua murid. 

Aspek-aspek penting dalam pendidikan multikultural:
•  Memberdayakan murid
•  Pengajaran yang relevan secara kultural
•  Meningkatkan hubungan diantara anak dari kelas etnis yang berbeda-beda
•  Pendidikan yang berpusat pada isu
•  Meningkatkan Hubungan di Antara Anak dari Kelompok Etnis yang Berbeda-beda
•  Kontak Personal dengan Orang Lain dari Latar belakang Kultural yang Berbeda 


Memberdayakan Murid 
Pemberdayaan yaitu memberi orang kemampuan intelektual dan keterampilan memecahkan masalah agar berhasil menciptakan dunia yang lebih adil. Pemberdayaan memiliki tujuan agar harga diri minoritas meningkat dan mengurangi prasangka negatif serta memberikan kesempatan pendidikan yang setara. 

Sonia Nieto (1992), seorang keturunan Puerto Rico yang besar di New York City, percaya bahwa pendidikannya membuatnya merasa latar belakang kulturalnya kelihatan agak buruk.

Sonia Nieto memberikan rekomendasi sebagai berikut : 
 Kurikulum ekolah harus jelas antirasis dan antidiskriminasi. 
 Pendidikan multikultural harus menjadi bagian dari setiap pembelajaran murid. 
 Murid harus dilatih untuk lebih sadar budaya (kultur) 


Pengajaran yang Relevan Secara Kurtural 

Pengajaran yaang relevan secara kultural adalah aspek penting dari pendidikan multikultural (Gay, 2000; Irvine & Armneto, 2001). Pengajaran ini dimaksudkan untuk menjalin hubungan dengan latar belakang kultural pelajar. Pakar pendidikan multikultural percaya bahwa guru yang baik baik akan mengetahui dan mengintegrasikam pengajaran yang relevan secara kultural ke dalam kurikulum karena akan membuat pengajaran lebih efektif (Diaz, 2001). 


Pendidikan yang Berpusat pada Isu 

Dalam pendekatan ini, murid diajari secara sistematis untuk mengkaji isu-isu yang berkaitan dengan kesetaraan dan keadilan sosial. Pendidikan ini tak hanya mengklarifikasi nilai, tetapi juga mengkaji alternatif dan konsekuensi dari pandangan tertentu yang dianut murid. Contoh situasi dimana beberapa murid merasa tidak nyaman dengan kebijakan makan siang di sebuah sekolah menengah atas (Pang, 2001). Murid yang mendapat subsidi dari pemerintah federal dipaksa menggunakan bangku khusus di kafetaria, yang secara otomatis akan membuat mereka dikenali. Banyak murid yang berasal dari keluarga miskin ini merasa direndahkan dan mereka enggan untuk makan siang. Murid dan guru bersama-sama menyusun rencana untuk mengatasi persoalan keadilan sosial ini, dewan sekolah kemudian merevisi kebijakan makan siang doi sepuluh sekolah menengah atas. Meningkatkan Hubungan di Antara Anak dari Kelompok Etnis yang Berbeda-beda Ketika psikolog sosial Elliot Aronson (1986) mengembang konsep kelas jigsaw. Di kelas ini murid dari latar belakang kultural yang berbeda diminta bekerja sama untuk mengerjakan berbagai bagian yang berbeda dari suatu tugas untuk meraih tujuan ynag sama. 


Kontak Personal dengan Orang Lain dari Latar belakang Kultural yang Berbeda 

Memasukkan anak minoritas ke bis sekolah yang didominasi Kulit Putih, atau sebaliknya tidak selalu bisa mengurangi prasangka atau memperbaiki hubungan antar-etnis (Minuchin-Sampiro, 1983). Hubungan meningkat ketika murid saling berbicara satu sama lain tentang kecemasan, kesuksesan, kegagalan, minat, strategi mereka untuk mengatasi masalah, dan sebagainya. Berbagi informasi personal sering kali mengahasilkan pendapat : orang dari berbagai latar belakang berbagi harapan, kecemasan, dan perasaan yang sama. Berbagai informasi informal dapat membantu memecahkan rintangan yang menyeka antarkelompok dan sekat diantara mereka. 
  

Pengambilan Perspektif 

Latihan dan aktivitas membantu murid melihat perspektif orang lain dapat meningkatkan relasi antaretnis. Contoh, murid diajak untuk menulis cerita atau memainkan drama yang berisi prasangka atau diskriminasi. Dengan cara ini murid “masuk ke dunia” murid lain yang secara kultural berbeda dengan dirinya dan memahami seperti apa rasanya diperlakukan secara tidak adil (Cushner, McClelland, & Safford, 1996). Mempelajari orang dari belahan dunia yang berbeda juga membantu murid untuk memahami perspektif yang berbeda (Mazurek, Winzer, & Majorek, 2000). Dalam studi-studi sosial, murid ditanyai mengapa orang dalam kultur tertentu punya adat kebiasaan yang berbeda. Guru juga bisa mendorong murid untuk membaca buku tentang keberagaman kultur. 


Pemikran Kritis dan Inteligensi Emosional 

Murid yang belajar secara mendalam dan kritis tentang relasi antar-etnis kemungkinan akan berkurang prasangkanya dan tak lagi menstereotipkan orang lain. Murid yang berfikir dangkal sering kali lebih banyak berprasangka. Inteligensi emosional bermanfaat bagi hubungan antar-etnis. Kecerdasan emosional berarti memiliki kesadaran diri tentang emosi, mengelolah, membaca emosi, dan menangani hubungan. Keahlian inteligensi emosi berikut ini dapat membantu murid untuk meningkatkan hubungan dengan orang lain yang berbeda ; memahami sebab perasaan orang lain, bagus dalam mengelolah kemarahannya sendiri, bisa menjadi pendengar yang baik atas orang lain, dan termotivasi berbagi dan bekerja sama dengan orang lain. 


Mengurangi Bias 

Louise Derman-Sparks dan Anti Bias Curriculum Task Force (1989) menciptakan sejumlah alat untuk membantu anak mengurangi, mengelolah atau bahkan mengeliminasi bias. Mereka berargumen bahwa meskipun perbedaan itu baik, namun diskriminasi bukan sesuatu yang baik. 

Berikut ini beberapa strategi antibias yang direkomendasikan untuk guru : 
  • Ciptakan lingkungan kelas antibias dengan memasang gamabr dari berbagai latar belakang etnis dan kultural. 
  • Pilih mmateri drama, seni, dan aktivitas kelas yang memperkaya pemahaman etnis dan kultural.  
  • Gunakan boneka : persona : untuk anak kecil. 
  • Bantu murid menolak stereotip dan diskriminasi. 
  • Ikutlah dalam aktivitas peningkatan kesadaran untuk memahami pandangan kultural anda sendiri secara lebih baik dan untuk menangani stereotip atau bias yang mungkin anda miliki. 
  • Bangun dialog guru/orang tua yang membuka diskusi tentang masing-masing pandangan ; lakukan tukar menukar informasi tentang bagaimana anak mengembangkan prasangka ; dan beri tahu orang tua tentang kurikulum antibias.




Meningkatkan Toleransi 

Untuk guru SD, video dan materi Different and Same dapat membantu anak menjadi lebih toleran. Sekolah dan komunitas sebagai satu tim. Psikiater dari Yale, James Corner (1988; Comer, dkk., 1996) percaya bahwa tim komunitas merupakan cara terbaik untuk mendidik anak. 

Tiga (3) aspek penting dari Comer Project; yakni : 
  1. Pemerintah dan tim manajemen yang mengembangkan rencana sekolah yang komprehensif, penilaian strategi, dan program pengembangan staf 
  2. Tim pendukung sekolah dan kesehatan mental 
  3. Program orang tua (Goldberg, 1997) Program Comer menekankan pendekatan no-fault (yakni fokus pada pemecahan masalah, bukan saling menyalahkan)



Daftar pustaka : John W. Santrock, psikologi pendidikan, jilid 2, Jakarta, Fajar Interpratama Mandiri, 2004. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar